Sebagian di antara kita mungkin mempunyai semangat belajar bahasa Arab yang tinggi. Ada yang ikut ma’had bahasa Arab ini, ma’had bahasa Arab itu, kursus bahasa Arab di lembaga X, kuliah di jurusan Sastra Arab, bahkan mendatangkan ustadz ke rumahnya untuk mengajari bahasa Arab. Belajar kitab-kitab nahwu dan sharaf; belajar muhadatsah pakai kitab DLA, ABY, dan kitab-kitab muhadatsah yang lain; belajar meng-i’rab, belajar baca kitab, dan berbagai macam bentuk belajar bahasa Arab lainnya pun ditekuninya dengan berapi-api.
Ketika kitab nahwu X sudah selesai dipelajari, dia ingin belajar kitab nahwu Y. Ketika dia sudah menguasai kitab muhadatsah A, ingin pula dia menguasai kitab muhadatsah B. Bahkan kitab-kitab pelajaran bahasa Arab yang sudah dipelajarinya pun hendak dia ulang-ulang lagi sampai nglothok (baca: di luar kepala). Demikian seterusnya, tiada hari tanpa belajar bahasa Arab hingga dia ingin menjadi seorang yang ahli dalam bahasa Arab; pintar nahwu dan sharaf, bisa baca kitab, menguasai muhadatsah, dan sebagainya. Read the rest of this entry







