RSS Feed

Pasangan yang Unik

Pasangan ini berpisah jika sedang berkumpul, tetapi berkumpul jika sedang berpisah.

Mereka adalah dua kata yang jika berkumpul lafadznya maka berbeda maknanya. Namun, jika tidak berkumpul lafadznya maka  berkumpullah maknanya (mempunyai makna yang sama), makna kata yang satu mencakup makna kata yang lain. Kaidah ini dalam bahasa Arab sering disebut dengan:

كلمتان إذا اجتمعا افترقا، و إذا افترقا اجتمعا

Apa sajakah pasangan kata yang memiliki kaidah unik ini? Mari kita simak pembahasannya berikut ini.

  • الإله و الرب

Jika lafadz “rabb” dan “ilaah” berkumpul maka keduanya mempunyai makna yang berbeda. Contoh disebutkannya lafadz “rabb” dan “ilaah” bersamaan dalam satu dalil yaitu

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ

Maka kata “rabb” di sini mempunyai arti Dzat yang menguasai, menciptakan, memiliki alam semesta, dan mengatur makhluk-Nya. Sedangkan kata “ilaah” berarti Dzat yang disembah dengan haq dan berhak untuk mendapatkan ibadah semata.

Sedangkan jika kedua lafadz tersebut disebutkan terpisah yaitu dalam satu dalil disebutkan “rabb” saja atau “ilaah” saja, maka kata “rabb” mencakup makna “ilaah”, dan kata “ilaah” juga mengandung makna “rabb”. Sebagaimana dalam pertanyaan dua malaikat kepada mayit di dalam kubur, “man rabbuka?” Maksudnya adalah “Siapakah sesembahanmu dan siapakah pencipta dan pengatur hidupmu?”

Contoh yang lain:

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah.’” (QS. Al-Hajj: 40) Maksudnya adalah “rabb kami dan sesembahan kami adalah Allah.”

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka …” (QS. Fushshilat: 30)

Maka rububiyyah dalam ayat-ayat tersebut mengandung makna ilahiyyah.

  • الإسلام و الإيمان

Jika keduanya berkumpul dalam satu dalil maka “islam” berkaitan dengan amalan lahiriyah, misalnya: shalat, puasa, zakat, membaca Al-Qur`an, dll. Sedangkan “iman” berkaitan dengan  amalan batin, misalnya: beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulullah, dll. Sebagaimana dalam hadits Jibril tentang islam, iman, dan ihsan.

Adapun jika disebutkan terpisah maka “islam” juga mencakup “iman”, dan sebaliknya. Contohnya:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu`minuun: 1)

Bukan berarti orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang memiliki amal batin saja tetapi tidak mempunyai amal badan. Maka “iman” dalam ayat ini mencakup amal batin dan amal badan sekaligus.

  • البر و التقوى

Kata “birr” mempunyai arti melaksanakan perintah, sedangkan “taqwa” artinya menjauhi larangan. Contohnya:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى

“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa …” (QS. Al-Ma`idah: 2)

Akan tetapi jika lafaznya terpisah maka “birr” dan “taqwa” mempunyai arti yang saling mencakupi yaitu melaksanakan perintah sekaligus menjauhi larangan. Contoh:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ

“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

  • الفقير و المسكين

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang makna “faqir” dan “miskin” jika kedua kata tersebut berkumpul, apakah faqir yang lebih parah ataukah miskin. Ada yang berpendapat bahwa “faqir” adalah orang yang tidak mempunyai penghasilan sama sekali, sedangkan “miskin” adalah orang yang mempunyai penghasilan tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya. Contoh dibedakannya faqir dan miskin dalam satu dalil:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Adapun jika disebutkan bersendirian maka berkumpullah makna keduanya. Jika disebutkan faqir saja maka termasuk di dalamnya miskin, dan sebaliknya. Contoh:

فَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan.” (QS. Ar-Ruum: 38)

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah 271)

  • الأمر بالمعروف و النهي عن المنكر

Amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan dua hal yang sangat terkait erat karena amar ma’ruf tidaklah berjalan baik kecuali dengan nahi munkar. Karena diperintahkannya sesuatu mengharuskan adanya larangan dari kebalikannya, dan dilarangnya dari hal yang haram adalah perintah untuk mengambil yang halal. Maka lafadz “amar ma’ruf” dan “nahi munkar” jika disebutkan sendirian, keduanya memiliki makna yang saling mencakupi. Contohnya:

كَانُواْ لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَفْعَلُونَ

“Mereka tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Ma`idah: 79)

Termasuk nahi munkar di sini adalah amar ma’ruf, karena meninggalkan yang ma’ruf termasuk kemungkaran.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)

Termasuk amar ma’ruf dalam ayat ini adalah meninggalkan kemungkaran, karena meninggalkan kemungkaran termasuk ma’ruf.

Namun jika disebutkan bersamaan maka ma’ruf adalah ketaatan, sedangkan munkar adalah kemaksiatan.

Dan beberapa pasangan unik yang lain..

21 responses »

  1. jazaakillahu khoyron telah berbagi ilmu nggih…

    Reply
  2. Baarakallah fiik.
    Jika diizinkan, kami ingin memosting artikel ini di situs Bahasa Arab Online.

    Faidah tambahan: Ada kitab yang khusus membahas perbedaan makna kata Arab yang memiliki arti hampir sama, yaitu kitab
    Furuqul Lughawiyyah >>Download di sini<<, karya Abu Hilal Al-Askari.

    –BAO–

    Reply
      • Assalamu’alaikum, ‘afwan…penggalian hukum seperti artikel di atas bisa ditemukan di buku apa ya? Akan jauh lebih baik lagi jika dicantumkan sumber aslinya, sehingga yang ingin menggali lebih dalam bisa merujuk kembali ke sumber aslinya. Jazakillah khaira.

        Maaf, tadi ana komentar kok belum masuk juga..jadi ana coba menggunakan fasilitas “reply” saja.

      • Wa ‘alaykumussalam
        Saya cuma menuliskan kembali faidah-faidah yang saya dapatkan dari kajian-kajian kitab yang saya ikuti di Jogja. Misalnya untuk pasangan kata “ilaah & rabb” saya dapatkan di kajian kitab Al-Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqod karya Syaikh Shalih Al-Fauzan, pasangan kata “al-amru bil ma’ruf wa an-nahyu ‘anil munkar” di kitab Duruus min Al-Qur’an karya Syaikh Shalih Al-Fauzan juga, “al-birr & at-taqwa” di Zaadul Muhaajir (Risalah Tabukiyah) karya Ibnul Qayyim, dll. Jadi tidak merujuk ke satu kitab saja.

  3. Assalamu’alaikum, ‘afwan…penggalian hukum seperti artikel di atas bisa ditemukan di buku apa ya? Akan jauh lebih baik lagi jika dicantumkan sumber aslinya, sehingga yang ingin menggali lebih dalam bisa merujuk kembali ke sumber aslinya. Jazakillah khaira

    Reply
  4. salam.. salam kenal juga… perkongsian yang amat menarik dan begitu bermanfaat..

    mohon keizinan untuk copy artikelnya… baru belajar dan mencoba untuk ber blog…

    wassalam…

    Reply
  5. Ada lagi akh.. Qadha wa Qadhar, lihat risalahnya oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah

    Reply
  6. Assalamu’alaikum,ijin share di blog ana di http://tentarakecilku.blogspot.com

    jazakallahu khoiron..

    Reply
  7. Baarakallah fiik^^ mb ….

    Reply
  8. Pingback: Pasangan Ini Berpisah Jika Sedang Berkumpul, Namun Berkumpul Jika Sedang Berpisah « imambaskoro

  9. أبو زيد

    أحسن الله إليك

    Reply
  10. asalamualiakum slam kenal….mau tanya, pencarian kata-kata diatas pake pendekatan apa ya?…apakah semacam pendekatan semantik?

    Reply
  11. Tulisan yang bagus, ukh ivon ^^. Senang bacanya, muraja’ah lagi.

    Reply
  12. ustadz ana izin share,syukron.

    Reply
  13. Reblogged this on Saatnya Bergerak.. Saatnya Melangkah.. Saatnya Terbang.. and commented:
    sempat debat di WA tentang amal ma’ruf dan nahiy munkar…
    aku ngotot, itu harus berbarengan. bukan amar ma’ruf dulu, baru dilaksanakan nahiy munkar.
    terjawab sudah.. keduanya harus dijalankan bersamaan. Ayatnya jelas Qs. Al Maidah 79)

    Reply
  14. bermanfaat,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: