RSS Feed

Masih Ada yang Lebih Wajib daripada Belajar Bahasa Arab

Sebagian di antara kita mungkin mempunyai semangat belajar bahasa Arab yang tinggi. Ada yang ikut ma’had bahasa Arab ini, ma’had bahasa Arab itu, kursus bahasa Arab di lembaga X, kuliah di jurusan Sastra Arab, bahkan mendatangkan ustadz ke rumahnya untuk mengajari bahasa Arab. Belajar kitab-kitab nahwu dan sharaf; belajar muhadatsah pakai kitab DLA, ABY, dan kitab-kitab muhadatsah yang lain; belajar meng-i’rab, belajar baca kitab, dan berbagai macam bentuk belajar bahasa Arab lainnya pun ditekuninya dengan berapi-api.

Ketika kitab nahwu X sudah selesai dipelajari, dia ingin belajar kitab nahwu Y. Ketika dia sudah menguasai kitab muhadatsah A, ingin pula dia menguasai kitab muhadatsah B. Bahkan kitab-kitab pelajaran bahasa Arab yang sudah dipelajarinya pun hendak dia ulang-ulang lagi sampai nglothok (baca: di luar kepala). Demikian seterusnya, tiada hari tanpa belajar bahasa Arab hingga dia ingin menjadi seorang yang ahli dalam bahasa Arab; pintar nahwu dan sharaf, bisa baca kitab, menguasai muhadatsah, dan sebagainya.

Pertanyaan tentang nahwu-sharaf yang ditujukan kepadanya dapat dijawabnya dengan mudah. Ditanya tentang i’rab suatu kata dalam kalimat, bisa dia jawab dengan tepat. Disuruh baca kitab pun dengan lancar dibacanya kitab gundul tanpa kesulitan. Maa syaa Allah … sungguh menakjubkan. Tahukah Anda, apa yang lebih menakjubkan lagi? Yang lebih menakjubkan adalah ketika ditanya tentang akidah, dia tidak bisa menjawabnya. Ketika ditanya permasalahan tentang fikih ibadah sehari-hari, dia kelimpungan. Ditanya hafalan Al-Qur`an-nya sudah berapa juz, mukanya merah padam. Saat ada teman ngaji yang menanyainya (misalnya), “Waah keren, bahasa Arab Antum bagus sekali, sudah bisa baca kitab pula. Pasti sudah banyak kitab para ulama yang dipelajari. Kalau boleh tahu, Antum sudah belajar kitab apa saja nih? Saya mau dong diajari kitab ini ….” Dia hanya mampu menjawab, “Mmm …” sembari tersipu.

Setelah itu barulah dia insaf, bahwa ilmu bahasa Arab yang sudah dipelajarinya selama ini belumlah bermanfaat bagi dirinya. Dia terlalu sibuk dengan belajar nahwu, i’rab, dan semisalnya, tetapi tidak paham bagaimana akidah yang benar, bagaimana ibadah yang sesuai tuntunan syariat, tidak tahu hukum-hukum muamalah.

Sungguh, banyak orang yang belajar bahasa Arab telah tertipu dan tersibukkan dengan ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan cabang-cabang ilmu bahasa Arab yang lain, sehingga mereka melupakan belajar ilmu yang lebih wajib yaitu ilmu tentang agamanya, bagaimana akidah yang benar, bagaimana cara beribadah yang benar, bagaimana hukum-hukum muamalah yang benar. Awalnya mungkin tujuan mereka benar, belajar bahasa Arab sebagai modal agar bisa memahami makna Al-Qur`an dan hadits, dapat menguasai ilmu syar’i dengan mempelajari kitab-kitab para ulama tanpa perlu beli buku terjemahan, memperoleh faedah yang banyak dengan belajar langsung dari para ulama jazirah Arab, atau biar bisa masuk LIPIA (maaf, nyebut merek ^_^). Namun, yang sangat disayangkan, mereka tersibukkan dengan belajar bahasa Arab sehingga terlalaikan dari tujuan utamanya.

Pun bagi yang sudah bisa baca kitab—minimal sedikit bisa baca kitab—, sayang sekali jika kemampuan baca kitab yang dimiliki tidak digunakan dengan sebaik-baiknya. Hanya mencukupkan diri dengan sekadar “sudah bisa baca kitab”, wah, eman-eman tenan. Gunakanlah kemampuan baca kitab untuk mempelajari dan menelaah kitab-kitab agama yang bermanfaat. Syukur-syukur setelah itu bisa membagi-bagikan ilmu yang sudah didapat dari menelaah kitab kepada orang lain. Bukankah ilmu yang kita miliki juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala di akhirat kelak?

Ingat, bahasa Arab dengan berbagai jenis ilmunya (nahwu, sharaf, balaghah, dll) hanyalah sarana, bukan tujuan utama. Maka seseorang tidak boleh berhenti sampai di sini. Maksud pokok adalah agar seseorang bisa paham agama, sedangkan bahasa Arab adalah sarana agar seseorang bisa paham agama dengan baik dan benar sehingga tidak menyimpang dari syariat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, termasuk tipu daya iblis adalah seseorang menghabiskan waktunya hanya untuk belajar bahasa Arab. Selayaknya seseorang punya ilmu sarana (ilmu alat) yang mencukupi untuk belajar ilmu agama. Adapun seseorang yang ingin menjadi pakar bahasa Arab, hendaknya dia pahamkan dulu agamanya secara global. Jika sudah baik agamanya, baik akidahnya, baik ibadahnya, baru setelah itu silakan mengkhususkan diri mendalami bahasa Arab. Yang penting, jangan berlebihan belajar ilmu alat sehingga melalaikan ilmu yang lebih wajib dan lebih penting untuk dipelajari.

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat.

Terinspirasi dari:

الكتاب :تلبيس إبليس

الباب السادس: في ذكر تلبيس إبليس على العلماء في فنون العلم

ذكر تلبيسه على أهل اللغة والأدب

(المؤلف : جمال الدين أبو الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد الجوزي (المتوفى : 597هـ

Via software Al-Maktabah Asy-Syamilah

Advertisements

8 responses »

  1. أحسنت بارك الله فيك

    Reply
  2. jazaakillah khoyron.. smg kelak bs belajar bhs Arab n memanfaatknx.. ^^

    Reply
  3. toko herbal online

    ilmu bahasa arab memang sebuah sarana,kalau sarana nya tidak dipakai di tujuan utama nya ya jadi mubadzir ilmunya..

    Reply
  4. ilmu yang disebutkan diatas itu mesti dipelajari dengan pengamalan seperti yang disebutkan juga diatas… tinggal menggunakannya saja yang belum dimaksimalkan. tata bahasa atau bahasa arab kan kunci, tinggal kita mau atau tidak cocokkan ke pintunya biar bisa masuk ke tujuan yang sebenar. semua ilmu bermanfaat jika diamalkan lillahi ta’ala.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: